f t g m
  • Multimedia

  • Multimedia

  • Teknik Komputer dan Jaringan

  • Teknik Komputer dan Jaringan

  • Busana Butik

  • Busana Butik

  • Administrasi Perkantoran

  • Administrasi Perkantoran

Copyright 2018 - SMK TERPADU AL-ISHLAHIYAH

Etika Membaca Shalawat

Ada dua kalam yang pembacaannya dianggap berpahala. Pertama, Kalamullah Al-Qur’an Al-Karim sebagai kalam literer. Al-Muta’abbadu bitilawatih, siapapun yang membaca Al-Quran tanpa mengerti maksudnya, maka pembacaan itu sudah dihitung ibadah. Kedua, pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Tanpa kita perlu mengerti detail maknanya, tanpa kita perlu mengerti arti secara harfiah dari bahasa Arab shalawat tersebut, itu sudah berpahala. Cukup kita mengerti  bahwa lafal yang kita lantunkan adalah shalawat, maka kita mendapatkan pahala.

Terkait dengan hal itu, ada catatan yang baik kita renungkan. Pada dasarnya, belum pernah Allah itu memerintahkan syariat apapun yang didahului dengan keteladanan. Belum pernah Allah mensyariatkan suatu peribadatan yang Allah sendiri memberikan contoh bahwa Allah sendiri melakukannya. Shalawat adalah pengecualian. Shalawat adalah perintah Allah yang Allah sendiri juga melakukannya.

Ketika Allah memerintahkan manusia agar membayar zakat, mendirikan shalat, menunaikan haji, dan syariat-syariat lainnya, tidak ada pernyataan bahwa Allah melakukan itu semua. Namun demikian, begitu Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka Allah mencontohkan bahwa Allah sendiri juga bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya :

Sesungguhnya Allah dan para malaikat itu bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam kepadanya (Nabi Muhammad Saw).

 

Selengkapnya

Mengenal Islam Nusantara

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah orang yang sudah meninggal: setiap hari dikirimi doa, tumpeng. Tapi, hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.
 

Baca Selengkapnya

More Articles ...

  1. Teladan Pancasila